Seorang da’ie pasti tahu bahwa Allah
swt. telah menciptakan manusia untuk tunduk hanya kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku.” (Al-Dzariyat: 56 ).
Ibadah hanya benar dilakukan bila didasari pengetahuan yang jelas. Pengetahuan yang jelas tidak akan terwujud kecuali mengacu kepad manhaj (pedoman) yang telah digariskan oleh Allah swt. yang telah mengutus para rasul dan nabi-Nya. Mereka, para rasul dan nabi adalah penyeru (du’at) yang menunjukan kepada kebenaran. Demikianlah kesibukan mereka dalam rangka merealisasikan kehendak Allah yang telah manjadikan Adam a.s. sebagai khalifah di muka bumi, memutuskan perkara dengan ketetapan Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي
الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
(Al-Baqarah: 30).
Maka dari itu, tujuan Allah
menciptakan manusia agar dirinya sibuk dengan perintah-Nya.
Imam Ar-Razy berkata, “Ibadah yang bagaimanakah yang menjadi
sebab diciptakannya jin dan manusia?” Kami tegaskan, “Ibadah yang dimaksud
adalah mengagungkan perintah Allah dan menyayangi ciptaannya.” (Tafsir Ar-Razy,
28/453). Kemudian Ar-Razy berkata, “Mengagungkan Allah menuntut konsekuensi
keharusan mengikuti syariat-Nya dan mentaati sabda rasul-Nya, Allah telah
memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya dengan mengutus para rasul dan
menjelaskan berbagai jalan dalam merealisasikan kedua bentuk ibadah tersebut di
atas. Pembagian ini terkait dengan tugas ibadah adalah pembagian yang mutlak
dan menyeluruh.
Dakwah kepada Allah swt. adalah fenomena keagungan Allah swt. yang paling tinggi. Dan seorang da’ie yang menyerukan kepada fikrah atau sasaran tertentu dengan mengarahkan segala kesungguhan di jalannya, sesungguhnya hal itu dilakukan agar ia dapat memenuhi pencapaian sasaran dan fikrahnya. Barangsiapa yang menyerukan kepada fikrah, maka ia akan dievaluasi atas fikrahnya, sebagaimana fikrahnya juga akan dievaluasi berkenaan dengan dirinya.
Dalam berdakwah kepada Allah terdapat bukti kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya, karena seorang da’ie ingin mengeluarkan manusia dari jurang kehancuran dan perpecahan di bawah kungkungan penguasa lokal menuju keluasan Islam dan cakrawalanya yang menyejukan, serta aturannya yang mengarahkan kepada kebahagiaan manusia. Juga mengeluarkan mereka dari lobang api neraka menuju taman surga.
Itulah dua sasaran ibadah, juga sekaligus menjadi sasaran dakwah, keselamatan ada pada capaian kedua sasaran tersebut. Para nabi Allah dan rasul-Nya telah berkomitmen dengan perintah Allah dalam berdakwah kepada-Nya dan memelihara tujuan penciptaan-Nya. Setiap rasul yang mulia selalu berobsesi dalam menyerukan manusia kepada keselamatan. Al-Qur’an telah menceritakan tentang pertarungan para nabi dengan kaumnya, selalu dipastikan bahwa pertarungan itu berakhir dengan kemenangan para du’at dan binasanya kaum penzalim penentang dakwah.
Pada kisah Nabi Nuh a.s. bersama kaumnya berakhir dengan:
فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ
وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ
“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia
dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu
pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan
itu.” (Yunus: 73
Demikian pula halnya dengan sebuah Desa Tepi Pantai:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ
يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا
كَانُوا يَفْسُقُونَ(165)
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada
mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami
timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka
selalu berbuat fasik.” (Al-A’raf: 165).
Kemenangan
orang-orang mukmin adalah kemenangan para da’ie, terbukti karena janji dan
keputusan (Allah). Inilah garis yang telah ditetapkan Allah (sunnatullah) di
muka bumi. Inilah janji untuk para penolong-Nya. Apabila terkadang perjalanan
terasa panjang bagi bagi para dai, maka harus dipahami seperti inilah jalannya.
Hendaknya para dai tetap yakin kemenangan dan pergantian kekuasaan akan menjadi
milik orang-orang beriman. Juga hendaknya para dai jangan tergesa-gesa terhadap
janji Allah, hal itu pasti akan terjadi di tengah perjalanan. Allah tidak akan
menipu para penolong-Nya, tidak akan lemah untuk menolong mereka dengan kekuatan-Nya,
dan tidak akan menyerahkan mereka kepada musuh-musuh-Nya. Bahkan, Allah akan
selalu mengajarkan mereka, menambah pengetahuan mereka, dan membekali mereka
-dalam cobaan dan penderitaan- dengan bekalan perjalanan.
Kegiatan dakwah tidak seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang, penuh dengan rasa letih, penderitaan, kepenatan dan kesengsaraan. Sesungguhnya kegiatan dakwah –meskipun tidak terlepas dari kelelahan dan kepenatan– seperti makanan lezat dan memuliakan hati. Oleh karena itu para aktivis dakwah selalu tetap berada di jalannya dengan nilai-nilai yang tinggi dan berharga, melipur lara dan mendapatkan kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya demi kepentingan dakwah. Mereka adalah orang yang paling bahagia bila dibanding dengan yang lainnya (yang tidak berdakwah). Adapun akhir dari perjuangan dakwah adalah kemenangan dan kekekalan; selain dari itu adalah kehancuran dan kebinasaan.
Wallahu ta'ala a'alam..
Kegiatan dakwah tidak seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang, penuh dengan rasa letih, penderitaan, kepenatan dan kesengsaraan. Sesungguhnya kegiatan dakwah –meskipun tidak terlepas dari kelelahan dan kepenatan– seperti makanan lezat dan memuliakan hati. Oleh karena itu para aktivis dakwah selalu tetap berada di jalannya dengan nilai-nilai yang tinggi dan berharga, melipur lara dan mendapatkan kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya demi kepentingan dakwah. Mereka adalah orang yang paling bahagia bila dibanding dengan yang lainnya (yang tidak berdakwah). Adapun akhir dari perjuangan dakwah adalah kemenangan dan kekekalan; selain dari itu adalah kehancuran dan kebinasaan.
Wallahu ta'ala a'alam..
Tiada ulasan:
Catat Ulasan