selepas sekian lama kami tinggal di bawah satu teratak yang semakin tua umurnya.dari pertama kali kami mengenal siapa ibunda,kami dicurahkan kasih sayang dan ilmu yang tidak pernah kami bayangkan.betapa ibunda mahu melihat kami semua sebagai anak-anaknya mempersiapkan diri untuk menghadapi masa hadapan yang lebih mencabar.selama itu juga,anak-anakmu yang lain hanyut dengan fatamorgana yang terbentang luas di depan mata.namun,ibunda tidak pernah lupa.ibunda masih ada anak-anak yang lain.dengan takdir yang Allah tetapkan untuk anak-anak ibunda,sebahagian anak-anakmu kini terpilih untuk meneruskan harapanmu yang setinggi langit.
ibunda seolah-olah redha.melihat seorang demi seorang anakmu pergi meninggalkanmu.harapanmu hanya satu,mahu anak-anakmu ini kembali mengubah anak-anakmu yang semakin jauh mengkhianatimu.
jauh dari ibunda.kami bagaikan hilang arah.saat itu,ayahanda menggapai tangan kami.ayahanda memberikan perlindungan untuk kami.ayahanda juga seperti ibunda.tetapi ayahanda lebih memberikan perhatian kepada kami,mungkin kerana tidak mahu kami mengkhianatinya sepertimana anak-anak ibunda mengkhianati ibunda.kami faham isi hati ayah.
namun,langit yang kami junjung tidak selalunya cerah.sebahagian anak-anakmu yang lain semakin menjauh dari ayahanda.masing-masing sudah pandai berdiri di atas kaki sendiri.kononnya mampu hidup tanpa ayahanda.ayahanda tetap tersenyum walaupun luka yang ditoreh hampir seabad lamanya hanya tinggal parut semata.sedikit pun ayahanda tidak membantah.dengan secebis nasihat ayahanda,mereka meninggalkan kami yang setia bersama ayahanda di sini.
anak-anak orang lain turut mempertikaikan,bagaimana mereka sanggup mengkhianati ayahanda mereka sedangkan mereka dijaga,ditatang bagai minyak yang penuh.bagaikan tiada cacat cela dalam didikan ayahanda.namun siapa yang mampu memberikan jawapannya.anak-anak tetap akan pergi.yang setia pula terus ayahanda jaga tanpa membiarkan kami terbiar begitu sahaja.ayahanda redha sehinggakan ayahanda pernah menyuarakan walaupun Allah ambil seorang dari anak-anak ayahanda,ayahanda masih ada anak-anak ayahanda yang lain.Allah Maha Adil.
apakah dosa seorang ayah yang meneruskan hidupnya untuk melindungi dan menjaga anak-anaknya?apakah ini balasan kita pada ayah?apa yang perlu kita katakan kepada ibunda kelak?sedangkan kita adalah harapannya?
masa kian berlalu,ibunda semakin dikhianati.tubuh ibunda diinjak-injak tanpa belas kasihan.mengapa kita masih berdiam?kita anak-anak ibunda bukan?ayahanda semakin disakiti.mengapa ayahanda berdiam?kerana ingin menjaga hati anak-anaknya.namun apa yang kita balas untuk mereka?
usia mereka semakin meningkat.usia mereka semakin senja.apakah kita mahu mereka binasa barulah kita berusaha mempertahankan mereka?saat itu siapalah kita untuk mempertahankan ibunda,siapalah kita mahu menjaga ayahanda?saat dan waktu itu di mana status kita sebagai anak-anak?
jangan hanya kerana pengaruh anak-anak orang lain,kita derhaka kepada ibunda kita sendiri.jangan hanya kerana kita sudah dewasa kita tidak perlu lagi pelindungan mereka.kita amat memerlukan dia yang digelar ibunda,dan kita masih memerlukan dia yang bergelar ayah.
wallahu ta'ala 'alam..
Bahtera Kota Kaherah
My Playlist
Isnin, 8 Ogos 2011
Selasa, 19 Julai 2011
Natijah.
Penantian satu penyeksaan, namun
apabila ia hadir, muncul suatu perasaan yang amat mendebarkan dan cukup
menggerunkan. Natijah… dalam
kesibukkan kita di musim imtihan ini,
kadangkala kita tak tentu arah jadinya tak senang duduk dan tidur tak lena bila
mengenangkannya. Menggeletar kepala lutut, kecur perut bila bercerita tentang natijah. Sekarang ia menjadi satu berita
hangat. Sehangat ‘pisang goreng panas’
ke sana, ke sini semuanya cerita natijah.
Antara dua, “gagal” atau “berjaya”. Semua orang mahukan kejayaan dan tiada
seorang pun yang inginkan kegagalan, namun demikian kegagalan atau kejayaan itu
semuanya adalah anugerah dari Illahi..
Alhamdulillah, tahniah kepada
sahabat-sahabat yang najah dan ana
ingatkan agar antunna bersyukur,
lebih-lebih lagi yang dapat imtiaz ke jayyid banyakkan bersyukur atas nikmat
yang Allah kurniakan. Jagalah hati dan perasaan antunna dari perasaan riya’
dan berlagak. Manakala yang tidak najah
pula, ini adalah satu ujian yang patut kita muhasabah. Jangan kita menyalahkan
diri kita mengapa kita tidak najah
walaupun pelbagai usaha yang kita lakukan dari sebelum bermula imtihan sehinggalah habis imtihan, dengan erti kata lain ada yang
tak tidur malam, puasa setiap hari isnin dan khamis, solat hajat tak pernah
lepas, pendek kata semua amalan kita jaga dengan bersungguh-sungguh ketika imtihan ini dan macam-macam usaha lagi.
Namun, sebagai seorang hamba Allah, kita tidak tahu ketentuan yang Allah
takdirkan untuk kita. Muhasabah semula mengapa Allah tidak mengkabulkan doa
kita. Kita tidak tahu seribu hikmah di sebalik tabir musibah.
Lumrah kehidupan manusia tidak
semuanya indah. Namun, apabila kita melihat realiti sebenar kehidupan kita
hidup di dalam dunia ini sebenarnya hanya sementara. Sepanjang perjalanan kita
penuh dengan ujian dan sekiranya kita berusaha bersungguh-sungguh untuk menemui
kejayaan yang sebenar, pasti kita akan berusaha melipat gandakan amalan dan
menjaga setiap gerak langkah agar tidak terjerumus dalam pujukkan syaitan
laknatullah yang sentiasa berusaha menghasut hati cucu cicit Nabi Adam A.S agar
bersama-sama dengannya ke dalam neraka, nauzubillahi min zalik. Maka, jika kita
takut gagal dalam imtihan dan takut mudah berputus harap dengan ketentuan
Allah, ingatlah, kita masih diberi peluang berusaha lagi. ‘Gagal sekali bukan
bererti gagal selama-lamanya’. Namun pernahkah kita takut apabila kita di
padang Mahsyar nanti kita menanti keputsan dari Allah sejauh mana kesungguhan
kita di dunia dengan apa yang kita lakukan? Adakah amalan kebaikan yang kita
lakukan itu lebih banyak atau amalan yang buruk itu lebih banyak. Sama-sama
kita fikirkan…
wallahu'alam..
Isnin, 11 Julai 2011
Tidak Ada Ruginya Berdakwah لا خسارة في الدعو
Seorang da’ie pasti tahu bahwa Allah
swt. telah menciptakan manusia untuk tunduk hanya kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku.” (Al-Dzariyat: 56 ).
Ibadah hanya benar dilakukan bila didasari pengetahuan yang jelas. Pengetahuan yang jelas tidak akan terwujud kecuali mengacu kepad manhaj (pedoman) yang telah digariskan oleh Allah swt. yang telah mengutus para rasul dan nabi-Nya. Mereka, para rasul dan nabi adalah penyeru (du’at) yang menunjukan kepada kebenaran. Demikianlah kesibukan mereka dalam rangka merealisasikan kehendak Allah yang telah manjadikan Adam a.s. sebagai khalifah di muka bumi, memutuskan perkara dengan ketetapan Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي
الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
(Al-Baqarah: 30).
Maka dari itu, tujuan Allah
menciptakan manusia agar dirinya sibuk dengan perintah-Nya.
Imam Ar-Razy berkata, “Ibadah yang bagaimanakah yang menjadi
sebab diciptakannya jin dan manusia?” Kami tegaskan, “Ibadah yang dimaksud
adalah mengagungkan perintah Allah dan menyayangi ciptaannya.” (Tafsir Ar-Razy,
28/453). Kemudian Ar-Razy berkata, “Mengagungkan Allah menuntut konsekuensi
keharusan mengikuti syariat-Nya dan mentaati sabda rasul-Nya, Allah telah
memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya dengan mengutus para rasul dan
menjelaskan berbagai jalan dalam merealisasikan kedua bentuk ibadah tersebut di
atas. Pembagian ini terkait dengan tugas ibadah adalah pembagian yang mutlak
dan menyeluruh.
Dakwah kepada Allah swt. adalah fenomena keagungan Allah swt. yang paling tinggi. Dan seorang da’ie yang menyerukan kepada fikrah atau sasaran tertentu dengan mengarahkan segala kesungguhan di jalannya, sesungguhnya hal itu dilakukan agar ia dapat memenuhi pencapaian sasaran dan fikrahnya. Barangsiapa yang menyerukan kepada fikrah, maka ia akan dievaluasi atas fikrahnya, sebagaimana fikrahnya juga akan dievaluasi berkenaan dengan dirinya.
Dalam berdakwah kepada Allah terdapat bukti kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya, karena seorang da’ie ingin mengeluarkan manusia dari jurang kehancuran dan perpecahan di bawah kungkungan penguasa lokal menuju keluasan Islam dan cakrawalanya yang menyejukan, serta aturannya yang mengarahkan kepada kebahagiaan manusia. Juga mengeluarkan mereka dari lobang api neraka menuju taman surga.
Itulah dua sasaran ibadah, juga sekaligus menjadi sasaran dakwah, keselamatan ada pada capaian kedua sasaran tersebut. Para nabi Allah dan rasul-Nya telah berkomitmen dengan perintah Allah dalam berdakwah kepada-Nya dan memelihara tujuan penciptaan-Nya. Setiap rasul yang mulia selalu berobsesi dalam menyerukan manusia kepada keselamatan. Al-Qur’an telah menceritakan tentang pertarungan para nabi dengan kaumnya, selalu dipastikan bahwa pertarungan itu berakhir dengan kemenangan para du’at dan binasanya kaum penzalim penentang dakwah.
Pada kisah Nabi Nuh a.s. bersama kaumnya berakhir dengan:
فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ
وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ
“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia
dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu
pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan
itu.” (Yunus: 73
Demikian pula halnya dengan sebuah Desa Tepi Pantai:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ
يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا
كَانُوا يَفْسُقُونَ(165)
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada
mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami
timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka
selalu berbuat fasik.” (Al-A’raf: 165).
Kemenangan
orang-orang mukmin adalah kemenangan para da’ie, terbukti karena janji dan
keputusan (Allah). Inilah garis yang telah ditetapkan Allah (sunnatullah) di
muka bumi. Inilah janji untuk para penolong-Nya. Apabila terkadang perjalanan
terasa panjang bagi bagi para dai, maka harus dipahami seperti inilah jalannya.
Hendaknya para dai tetap yakin kemenangan dan pergantian kekuasaan akan menjadi
milik orang-orang beriman. Juga hendaknya para dai jangan tergesa-gesa terhadap
janji Allah, hal itu pasti akan terjadi di tengah perjalanan. Allah tidak akan
menipu para penolong-Nya, tidak akan lemah untuk menolong mereka dengan kekuatan-Nya,
dan tidak akan menyerahkan mereka kepada musuh-musuh-Nya. Bahkan, Allah akan
selalu mengajarkan mereka, menambah pengetahuan mereka, dan membekali mereka
-dalam cobaan dan penderitaan- dengan bekalan perjalanan.
Kegiatan dakwah tidak seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang, penuh dengan rasa letih, penderitaan, kepenatan dan kesengsaraan. Sesungguhnya kegiatan dakwah –meskipun tidak terlepas dari kelelahan dan kepenatan– seperti makanan lezat dan memuliakan hati. Oleh karena itu para aktivis dakwah selalu tetap berada di jalannya dengan nilai-nilai yang tinggi dan berharga, melipur lara dan mendapatkan kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya demi kepentingan dakwah. Mereka adalah orang yang paling bahagia bila dibanding dengan yang lainnya (yang tidak berdakwah). Adapun akhir dari perjuangan dakwah adalah kemenangan dan kekekalan; selain dari itu adalah kehancuran dan kebinasaan.
Wallahu ta'ala a'alam..
Kegiatan dakwah tidak seperti yang dianggap oleh kebanyakan orang, penuh dengan rasa letih, penderitaan, kepenatan dan kesengsaraan. Sesungguhnya kegiatan dakwah –meskipun tidak terlepas dari kelelahan dan kepenatan– seperti makanan lezat dan memuliakan hati. Oleh karena itu para aktivis dakwah selalu tetap berada di jalannya dengan nilai-nilai yang tinggi dan berharga, melipur lara dan mendapatkan kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya demi kepentingan dakwah. Mereka adalah orang yang paling bahagia bila dibanding dengan yang lainnya (yang tidak berdakwah). Adapun akhir dari perjuangan dakwah adalah kemenangan dan kekekalan; selain dari itu adalah kehancuran dan kebinasaan.
Wallahu ta'ala a'alam..
Sabtu, 9 Julai 2011
Muhasabah..
Ketika
kita sedang membaca tulisan ini, apakah dosa terakhir yang telah kita buat
sebelum ini? Dalam masa sesaat, seminit, sejam, sehari, seminggu, sebulan dan
seterusnya sebelum ini, apakah kita telah melaluinya tanpa sebarang dosa pun
yang terpalit di hati? Hakikatnya, kita semua pasti telah melakukan dosa,
daripada sekecil-kecilnya hinggalah sebesar-besarnya. Ya, setiap bani Adam itu pasti
melakukan dosa, sebaik-baik orang berdosa ialah mereka yang bertaubat.
Persoalannya, adakah kita tergolong di kalangan sebaik-baik orang yang berdosa?
Sehebat
mana maksiat yang kita lakukan, kita pasti membencinya tatkala kita kembali
merenung dan bermuhasabah sendirian. Sepuas mana hati itu merasa dengan dosa
yang kita lakukan, pasti ada tersudut perasaan benci, dan menyesal yang teramat
sangat atas apa yang telah kita lakukan. Itulah fitrah yang telah Allah
ciptakan dalam diri kita. Bukannya kita tidak merasa menyesal, tapi kita selalu
menolak rasa penyesalan dan masih terus memenangkan kemaksiatan. Kita ingin
bertaubat dengan sebenar-benarnya, namun perasaan ingin bertaubat itu tersisih
di pinggiran hati.
Pun begitu, Allah memahami kita
lebih daripada kita memahami diri sendiri. Allah itu terlalu besar
pengampunannya buat hamba-hamba-Nya. Namun, kita selalu bongkak dan merasa
bahawa dosa kita itu lebih besar daripada rahmat Allah dan tak mungkin
terampun. Sombong, tidak mahu kembali kepada Allah. Lalu kita berputus asa
daripada menagih keampunan dan Rahmat Allah kerana dibohongi perasaan sendiri,
dipalingkan oleh syaitan, dikuasai oleh ego yang tidak selayaknya bagi kita.
Kita mengeluh sendirian, "ah, aku terlalu berdosa,
tak mungkin aku dapat kembali ke jalan yang lurus", seolah-olah
kita itu lemah dan patut dikasihani, namun sebenarnya kita itu sombong dan
angkuh terhadap Allah! Sedarkah kita?
Lalu
kita terus mengikuti dosa dengan dosa, sedangkan Rasulullah berpesan:
"Bertakwalah
kamu kepada Allah di mana sahaja kamu berada, dan iringilah kesalahan kamu
dengan kebaikan, nescaya kebaikan itu akan menghapuskan kesalahan tersebut dan
pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (HR Tirmidzi)
Jelas
bahawa seorang hamba itu tidak dapat lari daripada tergelincir ke lembah
maksiat dan dosa, namun dia juga sentiasa dialu-alukan oleh Allah untuk memohon
ampunan dan kembali taat. Maka tatkala kita merasakan bahawa kitalah yang
paling berdosa dan terlalu besar maksiat yang kita lakukan, kita juga harus
sedar bahawa tatkala itu, kitalah yang paling wajib untuk kembali ke pangkuan
Ilahi, bertaubat sepenuh hati. Ya, taubat itu bagi seorang Mukmin bukannya satu
pilihan, tapi satu kewajipan kerana dosa itu sesuatu yang tidak dapat
dielakkan, besar mahupun kecil.
Itu
satu sudut pandang buat mereka yang berdosa, agar kita tidak terjerumus ke
dalam tipu daya syaitan yang menghalang kita daripada menagih keampunan Allah
biar sebesar mana dosa kita. Jangan biarkan taubat itu tersisih di pinggiran
hati, lantas hilang sebelum sempat ia memasuki hati. Namun, dalam satu sudut
yang lain, tidak harus kita berangan-angan akan Rahmat Allah lantas selesa
dengan berbuat dosa. Kita memujuk hati dengan mengatakan, "Allah itu kan
Maha Pengampun, jadi tak ada masalah berbuat dosa berkali-kali." Anggapan
yang sebegini akan menjerumuskan kita lebih jauh ke dalam lembah kemaksiatan
sehingga semakin sukar untuk kita kembali.
Maka,
jangan tunggu dosa itu bertampuk dan semakin menggelapkan hati. Tatkala kita
terdetik untuk bertaubat, teruskanlah taubat itu dan jangan lengah-lengahkan
atau tangguhkan. Setiap kali kita tergelincir, bertaubatlah. Allah tak mengira
berapa kali kita sudah melakukan dosa tersebut, tetapi Allah pasti menerima
taubat setiap hamba-Nya yang ikhlas dan lahir daripada sudut hati yang sedar
akan kekuasaan Allah.
Jangan
biarkan taubat itu tersisih di pinggiran hati, masukkan ia ke dalam hati dan
laluilah jalan yang diredhai Allah. Mudah-mudahan Allah tidak menyisihkan kita
di hari perhitungan di pinggiran Neraka, bahkan di jurang api neraka.
Na'udzubillah!
"Dan
Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya
menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah hendak
memberikan keringanan kepadamu, kerana manusia diciptakan (bersifat)
lemah."
(An-Nisaa':
Ayat 27-28)
Isnin, 27 Jun 2011
Cerita Teladan...
Di dalam sebuah hutan yang dipenuhi
dengan pokok rendang dan rumput, terdapat seekor singa dan tiga ekor lembu
jantan; lembu putih, hitam dan merah.
Singa memerhatikan persekitaran untuk membaham ketiga-tiga lembu tersebut
tetapi tiada peluang, kerana apabila bersama-sama singa tidak mampu melawan
ketiga-tiga lembu tersebut. Mebunuh semuanya dengan menyerang salah satu
daripadanya.
Singa berusaha memikirkan helah,
lantas singa berkata kepada lembu merah dan hitam; “warna aku
seperti warna kamu berdua, tetapi, warna lembu putih sangat jelas, pemburu akan
nampak dari jauh dan mereka akan mengetahui tempat kita.” Dan terlintas di
fikiran mereka semua; “pada pendapat kami, kami akan
tinggalkannya untuk kamu makan agar kita aman di sini.” Lembu putih
yang ditinggalkan sendirian pun dimakan oleh singa.
Dan selepas beberapa tempoh, singa
berkata kepada lembu merah; “warna aku seperti warna kamu, tetapi, warna
lembu hitam berlawanan, dan ia akan mengancam kita, dan pada pendapat aku biarlah aku makan saja lembu hitam.” Kata
singa merah; “Makanlah.” Dan lembu hitam pun dimakan oleh singa seperti
lembu putih.
Kemudian, singa berkata kepada
lembu merah; “Sekarang, tak mustahil aku akan makan kau.” Binasalah lembu
merah kerana dia berpaling mengkhianati kawannya. Sangkaanny dirinya terkecuali dari menghadapi singa. Dia
teringat hari-hari yang dia bersama-sama melindungi dan mempertahankan
kawannya.
Maka wujudlah ungkapan yang
terkenal dalam bahasa arab;
“sesungguhnya aku telah makan kau
pada hari aku makan lembu putih.”
Isnin, 20 Jun 2011
Muqaddimah...
Segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam. Pemilik, Pencipta dan Penentu atas segala sesuatu, Ya Rabbulalamin. Selawat serta salam ke atas junjungan besar Rasulullah SAW, keluarga, sahabat baginda, para tabi’ dan tabi’in serta seluruh ummat islam di muka bumi ini.
Bersujud aku mensyukuri nikmat serta hidayah kurniaan Allah buat aku, hamba-Nya yang sering lupa dan selalu pula ingkar dalam penghambaan yang masih punya compang-campingnya ini. Namun kurnia Allah tidak pula ada surutnya buatku sentiasa dihidangkan dengan laluan dan lorongan ilham hingga aku terpandu lalu terhasil bingkisan sederhana ini buat tatapan semua yang bersamaku. Terima kasih, Tuhan.
Sembah salam penuh kasih sayang bersulam keampunan aku titipkan buat dua insan yang bagiku, satu bagai nyawa, satu umpama jiwa yang setia menelan segala perit, menahan setiap pedih membesarkan seorang insan sehina aku di dunia ini. Kerana redha kamu yang menjadi jambatan aku melangkah merentasi bumi Tuhan dalam mencari seribu satu kerahmatan yang tiada terlihat dek mata tidak tergapai dek tangan. Terima kasih ibu, terima kasih ayah.
Sekalung budi buat insan yang muncul di celah-celah kekalutan insan-insan yang mendampingi aku saban waktu, bonda, along, angah, alang, achik dan ucu, lalu mempersembahkan rasa percaya tanpa ragu pada aku. Lantas aku menjadi berani untuk menjadi insan yang luar biasa, yang mana sebelum ini aku sendiri belum biasa menikmati hasil mindaku sendiri.
Buat kau insan yang mendiami takhta hatiku sejak sekian lama, abang terima kasih atas rasa memahami dan perhatian dan kasih yang kau curahkan. Hadirnya kau setiap kali diri ini dirundung pilu dan buntu, acap kali menyuntik kembali semangat yang sering hilang diragut sengsara kehidupan. Terima kasih, abang.
Mudah-mudahan setiap sesuatu yang kita lakukan bakal dihitung sebagai amal soleh di sisi-Nya. Amin...
Ahad, 19 Jun 2011
Kisah Bahtera Nabi Nuh A.S
Selepas dakwah Nabi Nuh ditolak oleh kaumnya, Nabi Nuh telah berdoa kepada Allah S.W.T "Jangan tinggalkan walaupun seorang kafir dari kaumku di atas muka bumi." Doa Nabi Nuh dimakbulkan oleh Allah S.W.T dan Nabi Nuh telah diperintahkan untuk membina sebuah bahtera yang besar.
Nabi Nuh: Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan keampunan-Nya.
Nabi Nuh menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru:"Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi orang yang rugi."
Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh:"Turunlah wahai Nuh ke atas darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu."
Kata-kata salah seorang kaumnya;
Pemuda pertama : Apa ini wahai Nuh? Membuat bahtera di padang pasir!?
Pemuda kedua : Dan di mana engkau mahu menggerakkan bahtera ini? Laluan atas pasir?...
Pemuda ketiga : Tidak! Sesungguhnya dia akan membawanya hingga ke atas air.
Kemudian mereka mentertawakan Nabi Nuh...
Nabi Nuh a.s : Sesungguhnya kamu mengejek aku sekarang, tetapi ia akan segera mendekati kamu, Insya Allah.
Maka, apabila telah sampai janji Allah...
terdengar di kalangan mereka orang yang memekik.
Kata salah seorang dari mereka : Sesungguhnya langit menurunkan hujan yang lebat, tidak cerah seperti sebelum ini.
Yang lain berkata : Lihatlah air yang keluar dengan banyak dari perut bumi.
Jawab yang lain pula : Sesungguhnya ini adalah maut!
"Sesungguhnya telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Nuh sesiapa dari kaumnya yang bersama-sama dengannya akan selamat ahlinya di atas bahtera selepas mereka melihat petanda dari Allah."
Terdengar pekikkan suara : Petanda? Apakah ia petanda itu?
Maka dijawabnya : Keluar air dari perut bumi.
Dan perintah Allah kepada nabi-Nya, Nuh untuk membawa bersama-samanya dari setiap haiwan berpasang-pasangan lelaki dan perempuan. Maka berlayarlah bahtera meredah air ditengah-tengah banjir yang tingginya mencapai tingginya gunung.
Nabi Nuh terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan suaranya yang kuat memanggil puteranya...
Nabi Nuh: Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah.
Kan'aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang...
Kan'aan: Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini!
Nabi Nuh: Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan keampunan-Nya.
Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang derhaka.
Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berdoa kepada Allah "Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalha janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa."
Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah. Beliau berdoa kepada Allah "Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalha janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa."
Kepadanya Allah berfirman : "Wahai Nuh! Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, kerana ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu.Coretlah namanya dari daftar keluargamu.Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu mengikuti jalanmu dan beriman kepada-Ku dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya danterjamin keselamatan jiwanya.Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh."
Nabi Nuh menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru:"Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi orang yang rugi."
Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh:"Turunlah wahai Nuh ke atas darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu."
Wallahu ta'ala a'alam...
Langgan:
Catatan (Atom)